Di kota pesisir itu, cerita baru mengemuka dari panggung kecil yang ramai. Irama koplo bertaut dengan langkah pointe, dan frasa Scatter Hoki Mahjong Wins berkelebat dari bibir penonton.
Acara bermula sederhana pada sore berawan, lalu berubah menjadi sorotan setelah satu momen kunci terjadi.
Penonton berdiri melingkar, sebagian ikut berjoget sambil memegang ponsel. Sementara itu, kostum tutu memantulkan cahaya lampu rumahan yang temaram.
Kontras dua dunia itu justru memantik tepuk tangan panjang, membangun suasana cair tanpa jarak.
Di tengah riuh musik, simbol scatter yang dinanti muncul berturut pada layar genggam. Nama permainan yang disebut orang sebagai Mahjong Wins menjadi bahan obrolan singkat.
Kegembiraan merambat cepat, secepat not koplo yang memacu langkah penonton.
Nominal itu terdengar diucapkan pelan, lalu dikonfirmasi oleh panitia kecil melalui catatan mereka. Riuh rendah segera berubah jadi rencana nyata untuk proyek seni.
Bukan sekadar angka, melainkan bahan bakar bagi mimpi yang lama menunggu giliran tampil.
Penyebutan DOME234 muncul dari pengeras suara dengan nada informatif. Panitia menegaskan, dukungan teknis hadir seperlunya agar acara berjalan tertib.
Tidak ada glorifikasi berlebihan, hanya penyebutan fungsi yang relevan pada momen yang memerlukannya.
Agenda pascapentas disusun di ruang belakang panggung dengan meja lipat yang sederhana. Nama penari, kurator lokal, serta jadwal latihan ditandai menggunakan spidol warna.
Targetnya jelas: ruang pementasan mungil dengan kursi terbatas agar intim, berdiri di kawasan mudah dijangkau keluarga dan tetangga.
“Aku tumbuh dengan lagu-lagu daerah dan koplo,” ujar penari itu sembari mengikat pita sepatu. “Gerak ballet memberiku bahasa lain untuk bercerita tanpa meninggalkan akar.”
Ia menambahkan, “Mimpi teater pribadi bukan untuk tampil sendiri, melainkan membuka giliran bagi adik-adik yang sedang berlatih.”
Para pelatih sanggar mencatat dampak langsung pada minat peserta baru. Anak-anak yang datang sore hari membawa rasa ingin tahu dan semangat mencoba.
Pedagang kecil di sekitar lokasi juga kebagian rezeki karena aliran penonton yang menunggu giliran masuk.
Kombinasi kostum lembut dengan ketukan keras melahirkan ritme segar. Penataan transisi di panggung memanfaatkan jeda musik untuk pergantian adegan.
Setiap segmen terasa pendek namun renyah, menjaga audiens tetap fokus tanpa kehilangan napas.
Munculnya scatter di tengah kemeriahan menjadi simbol pembuka babak baru. Percakapan spontan menerjemahkan kejadian itu sebagai keberuntungan yang datang tepat waktu.
Dari sana, diskusi beralih ke tata panggung dan daftar karya yang ingin diproduksi dalam serial pementasan.
Nama-nama kru dicatat, dari tata cahaya, dokumentasi, hingga pengamanan penonton. Peralatan dibongkar pasang, diperiksa kabel, tripod, serta speaker cadangan.
Manajemen tiket sederhana diputuskan: kuota kecil, pemesanan awal, dan susunan bangku yang memungkinkan jalur keluar rapi.
Catatan biaya ditulis transparan pada papan tulis sementara. Ada pos untuk lisensi musik, sewa ruang latihan, dan honor pendamping anak.
Mereka juga menyiapkan laporan ringkas yang akan ditempel selepas pementasan perdana, supaya warga tahu arah penggunaan dana.
Latihan dasar disiapkan dalam format kelas pendek dua kali sepekan. Materinya mencakup kebugaran, teknik dasar, dan etika panggung agar disiplin tertanam sejak awal.
Orang tua dilibatkan pada pertemuan bulanan supaya perkembangan anak tercatat dan dukungan rumah tetap konsisten.
Beberapa penabuh kendang diajak mencoba tempo yang ramah bagi lompatan dan pirouette. Aransemen dikembangkan tanpa menutupi karakter koplo, sehingga gesekan tradisi tetap terasa.
Dialog kreatif ini memunculkan partitur sederhana, memudahkan latihan lintas disiplin tanpa hambatan komunikasi.
Kapasitas ruangan dibatasi agar sirkulasi udara terjaga dan pandangan tidak terhalang. Waktu pertunjukan dipilih sebelum larut malam supaya lingkungan sekitar tetap nyaman.
Petugas lapangan menandai jalur evakuasi serta mengingatkan penonton untuk menyimpan botol minum pada area khusus.
Ruang laktasi disiapkan sederhana.
Paduan dangdut koplo dan ballet memberikan rasa baru pada tontonan. Scatter yang hadir pada saat krusial menghadirkan penekanan cerita yang sulit diulang.
Cerita yang tumbuh dari Ende ini mengajarkan bahwa gagasan segar sering lahir dari pertemuan antartradisi yang saling menghormati.